Postingan

Garda Terdepan

Gambar
Suara sirine memecah keheningan parkiran di Senin pagi. Saya menyapa Pak Romi yang sudah rapi dengan hazmat putih dan tampak memastikan kelengkapan ambulans sebelum merujuk pasien ibu dan bayi hari ini. Segelas kopi dan sepiring pisang goreng hangat sengaja disiapkannya sebagai amunisi. Walau dengan gurat wajah yang sedikit gerah, saya hampir tak pernah mendengarkan keluh yang terucap melainkan rasa syukur yang tak pernah abai. Beliau yang sudah berusia lima puluh tahun ini, menjadi salah satu yang jasanya tak dapat dimungkiri walau baru bekerja setahun lebih di rumah sakit kami. Di lantai dua ruang emergency , saya melihat empat perawat berseragam senada sedang sigap menerima instruksi. Ada yang mengecek saturasi, dan ada yang membetulkan infus dengan hati-hati. Dokter jaga bertugas memberi edukasi serta menuliskan satu per satu kertas-kertas resep yang harus dilengkapi.   Di ruang yang berbeda, ibu-ibu cleaning service melakukan sterilisasi ruangan sekurang-kurangnya dua kali da...

R(ASA)

Gambar
Rasa. Bermula dari adanya intensitas berjumpa. Pun karena jarak usia kami yang dekat, kita menjadi lekat dan sepakat punya pandangan yang seiya sekata. Sederhananya, kita cukup sering berbagi makanan seadanya. Kamu juga sempat bercerita lama dengan tanpa sungkan berbagi kisah cinta. Asa. Karena alat pendingin ruangan sedang rusak, saya berinisiatif membeli mini kipas angin dengan gambar karakter kesukaan yang juga agar bisa saya bawa kemana-mana. Mungkin karena harganya yang murah, kualitas barang jadinya tidak menjanjikan untuk dipakai lebih lama. Saya pernah meminta tolong padamu untuk memperbaikinya, bukan? Semoga kamu masih menyimpannya. Rasa. Saya bersaksi betapa baiknya perilakumu terhadap wanita. Asap rokok yang tidak kamu biarkan sekelilingmu terpapar sebagai contohnya. Serta hal-hal versi dirimu dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai orang yang sekiranya bisa menjaga. Oh iya, kapan lagi kita bisa berboncengan bersama? Asa. Jam pergantian shift kerja. Dari kantung matamu jel...

Kabar Dalam Kenangan

Gambar
Rindu melepas headphone , membetulkan posisi microphone , mematikan audio mixer , dan kemudian memutar playlist lagu upbeat . Tangannya dingin dan suaranya mulai serak, padahal air hangat di botol merahnya sudah nyaris dihabiskan. Dari balik kaca ruang siar, Kak Randa, sang station manager , tampak memberi acungan jempol kepada Rindu setelah empat jam mengisi siaran dengan dua segmentasi acara berbeda. Hari ini, Rindu memenuhi janji pada pendengarnya setelah vakum selama seminggu karena skripsi masih menjadi prioritasnya. “Kamu ke Hotel Hasanuddin ya! Artis Adera akan pressconference sore ini!”. Seru kak Randa setelah memberi isyarat agar Rindu menemuinya selepas shalat Ashar. Karena hanya akan berangkat sendiri, Rindu pun dibekali oleh banyaknya perintilan penting seperti surat tugas, buku catatan, pena, dan kamera. Tidak lupa, kartu pers yang baru saja selesai dicetak, lengkap dengan gantungan bermotif batik yang katanya tidak boleh dilepas sepanjang berada disana nanti. Sesampai...

Pandemi: Pengingat Syukur

Gambar
Cuaca cukup terik. Suasana kompleks masih sepi. Padahal ini hari Senin. Selama pandemi, kampus dan sekolah diliburkan. Saya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang beraktivitas di luar rumah. Pagi itu Mama sudah terjaga dari selepas shalat Subuh, tidak dengan ponakan-ponakan yang masih terlelap nyenyak di bawah selimut hangatnya. Jaket merah jambu bermotif bunga telah saya kenakan. Ransel warna senada pun dicek agar tidak ada barang bawaan wajib yang ketinggalan. Sepatu hitam dan helm merah bergambar lebah sudah siap di teras rumah. Sembari menunggu Bapak ojek online membunyikan klakson motornya sebagai aba-aba bahwa ia telah tiba.   “Rumah sakit tidak libur ya, Mbak?” Bapak ojek online memulai percakapan. Di perjalanan, kami akhirnya terlibat diskusi singkat. Saya sedikit menjelaskan bahwa layanan kesehatan menjadi salah satu tempat yang tidak dinonaktifkan sesuai instruksi pemerintah. Saya pun memberanikan diri dengan menimpali dengan pertanyaan yang sama. “Ikut keb...

#Q&A Tentang Diri

Gambar
Dari sebuah obrolan santai sampai menjadi doa dari orang-orang yang banyak memanjatkan, berikut beberapa pertanyaan yang   telah disaring dan jawabannya siap untuk di- sharing :)   Q: Kacamata minus berapa? A: Sekarang sudah minus 4 (mata kanan) dan minus 5 (mata kiri). Karena suka dilepas pasang dan malas minum jus buah. Jangan ditiru ya! :) Q: Guilty preasure? A: Masak dan makan mie instan. Harus buatan sendiri.   Dalam seminggu bisa lebih dari satu-kali. Yang sungguh tidak dianjurkan dari segi gizi. That’s the real booster dan percayalah saya akan lebih baik setelah melakukan ini HAHAHA Q: Pertama kali berhijab? A: 2 Mei 2011. Tepat hari pendidikan nasional kala itu. Bukan sengaja, tapi di-ACC nya bertepatan sama tanggal tersebut. Keinginan hijrah dengan berhijab sebenarnya sudah terbesit sejak SMA. Dimana   lingkungan organisasi rohis, sahabat-sahabat shalihah, sampai murabbi tarbiyah-lah yang membuat saya mulai belajar sedikit demi sedik...

PAMIT

Gambar
Pukul 17.30 wita. Senja mulai menampakkan pesonanya. Rindu duduk sejenak sembari mengadu lelah. Memandang atap-atap rumah yang statis, melihat jauh burung kecil yang bertebaran, menikmati irama daun pepohonan yang bergerak sepoi dari balik jendela. Mengingat seberapa banyak kebaikan yang telah dituai, merenungi seberapa cukup ibadah sebagai bekal pulang bertemu ilahi, menyadari tentang kematian yang pasti sebagai pengingat dari Tuhannya. ”Hei, yuk pulang! Penjemputmu sebentar lagi tiba”. Lamunan Rindu sontak buyar. Ia pun langsung beranjak dari kursinya. Bergegas mematikan lagu Goodbye Days – Rui yang tidak selesai didengarkannya, mengecek kembali barang bawaan sambil membetulkan buku-buku yang masih berantakan di atas meja. Seperti hari-hari sebelumnya, langkah Rindu selalu terhenti di lantai dua. Memandang lekat punggung yang selalu tak kuasa ia sapa. Namun, suasana menjelang petang itu mendadak berbeda. Dengan jarak dekat, ada senyum dari arah yang tidak disangka. Dengan ...

Rain(du)

Gambar
Perempuan itu bernama Rindu . Di suatu subuh, hujan seperti alarm yang tiba-tiba membangunkannya. Ia pun membuka sampiran jendela kamarnya, nan berkata: Assalamualaikum, pertanda musim penantian siap berganti ke sensasi suasana hati yang berbeda” Rindu senang musim hujan tiba. Walau September menjadi pemula musim ini, namun tidak pada perasaan yang ia semai-kan pada seseorang yang ia kenal sejak Maret lalu. Seseorang yang membuat dirinya merasa terjaga dari jauh. Seseorang yang membuat dirinya menjadi perempuan yang lebih tangguh. Seseorang yang membuat dirinya luluh tanpa membuat Allah cemburu. Rindu percaya. Hujan adalah waktu mustajab diijabahnya doa, maka tak ada yang bisa ia lakukan selain mendoakan, agar perasannya pun sampai pada tujuan. Yakni kepada seorang pemuda berkacamata nan pekerja keras: “semoga ia selalu terjaga dalam sholat khusyuknya serta kabar gembira selalu menyertainya seperti arti dalam namanya. ” Jika   Allah mengabulkan doa lew...