POV 'USIA 30+ TAHUN BELUM MENIKAH'
Tulisan ini terinspirasi setelah menonton sebuah podcast di kanal youtube influencer muslimah. Ku sebut mereka para perempuan sebaya, karena usianya tak jauh dariku. Adalah Teh Jeje 28 tahun, Teh April 30 tahun dan Teh Sri 33 tahun.
Disclaimer, usiaku tahun ini masuk 34 tahun. Fyi, banyak yang un-expect kalau usiaku sudah kepala tiga plus. Mereka selalu mengira i'm older than my age, mungkin karena badanku mungil dan sisi inner child-ku masih melekat dan jadi identity-ku. Tapi, sebagian orang juga banyak yang notice sisi kedewasaanku, katanya dari caraku berpenampilan, ber-attitude, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Ah, Masya Allah
Oke back to the topic tentang podcast.
Podcast ini adalah episode pertama sekaligus edisi perdana yapping-an mereka bertiga. Sebagai penikmat kontennya, i hopefully masih berkelanjutan ke episode berikutnya dengan insight topik lainnya. Podcast bertemakan 'usia 30+ tahun belum menikah' ini, pembahasannya super relate 1000% dengan pemahaman dan pengalamanku.
Di akhir sesi dari durasi tiga puluh menitan podcast-nya, ditutup dengan sebuah pertanyaan:
'Takut belum menikah dan lebih dulu meninggal, nggak?’
Ku izin nimbrung dari sudut pandangku:
Iya, ku takut! Tapi dengan Allah kasih rasa takut, kita punya reason untuk mempersiapkan. Di usia dan fase tawakkal ini, jujurly ku santuy aja. Mengingat goals nikah masih jadi urutan kesekian sekian, belum priority banget.
In another poin, meninggal adalah sebuah ketetapan Allah bagi makhluknya yang pasti. Sedangkan ‘meninggal lebih dulu saat belum menikah’ yang kita belum tau, yang belum pasti! Entah diri kan ‘berjodoh’ sama yang mana dulu.
Belum priority, belum tau, belum pasti, (bukan belum mau), bukan berarti kita menurunkan standar diri sendiri, bukan berarti kita me-remake standar keinginan dan kebutuhan kita pada orang lain. Juga, bukan berarti kita denial sama fitrah kita (re: falling in love to someone who teach us batasan dan penjagaan)
Kita, masih punya kewajiban untuk bermaksimal diri atas freewill-nya kita! Ada satu yang ku-highlight juga dari pembahasan ini, bahwa: mungkin menurut Allah, kebermanfaatan kita masih lebih banyak saat kita sendiri. Masih dimampukan sama Allah untuk independent secara tindakan dan pemikiran. Masih bisa case closed segala sesuatu sen-di-ri!
Tak sedikit ada yang nasehatin: ‘Kak Uchi lagi produktif-produktifnya, nikmati sajami dulu (momen sama dirita), Kak’.
Intinya, apapun itu, berprasangka baik aja sama Allah. Kalau kita sudah dikasih chance mempersiapkan keduanya, maka bersyukur! Lalu doa, semoga tetap jadi hujjah kebaikan buat kita. Whatever, whenever or however it comes!
Semangat puan! Barakallah fiik 🫶
Komentar
Posting Komentar