Life After Bracket
Sebelum sharing lebih lanjut, mau desclimer sedikit dulu alasanku (akhirnya) menggunakan behel yang belum banyak yang tahu.
Jadi, beberapa bulan belakangan, ku memiliki
keluhan gusi berdarah dan gigi goyang bagian depan. Setelah konsul ke beberapa
dokter gigi, diagnosis awalnya adalah radang gusi. Ku pun sempat ditolak untuk tindakan
blaching karena kondisi gusiku yang tidak sehat. Beberapa dokter
menyarankan untuk segera konsul ke dokter spesialis agar segera tertangani.
Di antara rasa cemas dan takut, ku
pun melakukan ikhtiar untuk mencari dokter yang sekiranya bisa menangani
keluhanku, tapi ada yang jadwalnya
kurang cocok dan ada yang kurang sreg. Untungnya, keluarga kami ada yang berprofesi
sebagai dokter spesialis gigi, tempat praktiknya dekat dengan rumah dan kantor,
pun Beliau sedikit mengenalku walau kami jarang bertemu satu sama lain sebelumnya.
Saat konsul perdana, ku mendapatkan
tindakan scaling dan pemberian antiseptik serta dilakukan pengecekan kondisi
gusi, yang benar sudah radang. Di akhir sesi konsul, kami menyepakati tindakan berikutnya
yakni ikat gusi. Ikat gusi dilakukan dengan tujuan dan harapan untuk mencegah gigi
depanku semakin goyang. Lebih dari seminggu setelah tindakan tersebut, ku datang
untuk konsul lagi. Dokter mengatakan bahwa ikat gusi ini tidak sepenuhnya
berhasil. Akhirnya ku ditawari dua opsi lainnya: yakni pemasangan behel atau
pencabutan dan pemasangan gigi palsu. Dari keduanya, resiko yang paling kecil dan
tindakan yang paling mungkin adalah pemasangan behel. Sedangkan tindakan gigi
palsu sendiri dengan kondisi gusi yang radang, diprediksi hasilnya tidak akan
maksimal.
Nah, how’s life after bracket?
Pertama, ku mengalami
kesulitan makan dan harus mengonsumsi diet lunak. Nyerinya berkali-kali lipat:
nyeri dari gusi, nyeri dari tarikan kawat behel, dan nyeri dari gesekan bracket
di mukosa bibir dalam. Kedua, ku rutin menggunakan gel bracket dan antiseptik
kumur, mengonsumsi antibiotik, obat anti radang dan obat anti nyeri jika sudah
sangat tidak tertahankan. Ketiga, ku cukup mengalami kesulitan berbicara
karena masih adaptasi, untungnya setelah pemasangan behel, tak banyak kegiatan
sosial yang harus ku ikuti. Keempat, ku harus rutin ke dokter gigi minimal
sekali dalam sebulan untuk kontrol, pergantian karet bracket bahkan
pergantian bracket yang sempat terlepas di sudut kiri gigi atas. Kelima,
ku harus membeli dan menggunakan sikat gigi khusus, dental pick dan lilin
bracket.
Benar yah, cantik dan sehat itu
butuh effort. Sekaligus jadi reminder untuk tidak effortless sama
diri sendiri. Be effort-lah atas waktu, tenaga dan materi untuk diri
sendiri. Insecure fisik yang sempat ku alami ternyata tidak selamanya negatif,
justru itu jadi energi untuk jadi pribadi yang more good looking dan jadi
part of self love kita juga.
Oh iya, yang mau tanya-tanya pengalaman ku lebih lanjut boleh banget ya, semisal rekomendasi dokter sampai kisaran biaya pemasangan sampai perawatan. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan terhadap apapun yang kita putuskan dan jalankan. Salam sehat semuanya :)
Komentar
Posting Komentar